History

History
"History Make Me Happy"

Friday, 26 August 2016

SHIPPING IN THE ARCHIPELAGO AT 15th-17th CENTURY
In the 15th century in Indonesia began to appear towns or port-emporiums. Port cities it developed in synergy with the development of Islam. This can be seen in the fact that the development of Islam in Indonesia is through the areas or the port cities such as Samudra Pasai, Aceh, Malacca, Demak, Gresik, Tuban, Cirebon, Banten, Ternate, and others. Between the port city with one another to hold mutual trade interactions. Of course, this activity using cruise lines as ingredients.
     With regard to shipping activities in the period of 15-17 century, it can not be separated from what is termed a shipbuilding technology. At that time there were already shipbuilding tradition that used to sail across the islands of the archipelago and to transport the goods of the trade. Shipbuilding tradition indigenous undergone significant changes since the arrival of Portuguese ships in the waters of the archipelago. This happens because a lot of the Portuguese working as an advisor and architect of the ship as was done by Van Linschotten in the late 16th century.

Friday, 19 August 2016

SEJARAH WAYANG WONG NGESTI PANDAWA SEMARANG

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman budaya dan kesenian rakyat. Tiap-tiap pulau di Indonesia mempunyai budaya dan kesenian rakyat atau kesenian tradisional  yang berbeda-beda. Kesenian tradisional, menurut A. Kasim Ahmad dalam majalah Analisis kebudayaan adalah suatu bentuk seni yang bersumber dari gerakan serta dirasakan sebagai hak milik sendiri oleh masyarakat lingkungannya. Salah satunya di Pulau Jawa, dimana terdapat kesenian Wayang yang merupakan salah satu kebudayaan asli Indonesia. Brandes berpendapat bahwa wayang erat sekali hubungannya dengan kehidupan sosial, kultural, dan religius suku bangsa Jawa. Arti harfiah dari wayang adalah bayangan, tetapi dalam perjalanan waktu pengertian wayang berubah, dan dapat berarti pertunjukkan. Wayang sebagai seni teater berarti pertunjukkan panggung di mana sutradara ikut bermain. Adapun sutradara dalam pertunjukkan wayang dikenal sebagai Dalang.
DINAMIKA PERJUANGAN BERSENJATA DAN PERJUANGAN DIPLOMASI DALAM SEJARAH KONTEMPORER INDONESIA

Dalam sejarah kontemporer Indonesia, dikenal dua bentuk strategi perjuangan, yaitu diplomasi dan perjuangan bersenjata. Perjuangan diplomasi dapat berjalan searah dengan perjuangan bersenjata maupun dapat berjalan berlawanan. Hal ini dapat dilihat ketika masa setelah Indonesia merdeka atau masa revolusi dan perjuangan merebut Irian Barat. Strategi diplomasi dan perjuangan bersenjata ketika masa revolusi (perang kemerdekaan), keduanya sama-sama digunakan untuk mempertahankan kemerdekaan republik terhadap aksi polisionil Belanda.
     Dalam konteks perjuangan diplomasi dengan Belanda, ada dua kelompok yang memiliki pandangan berbeda tentang strategi perjuangan ini. Kelompok pertama diwakili oleh Sjahrir, yang ketika menjadi perdana menteri lebih menekankan dan mengutamakan diplomasi daripada gerakan bersenjata. Hal ini dilatarbelakangi pandangan Sjahrir tentang kedudukan Indonesia yang masih sangat lemah pada waktu itu yang menurutnya berada di bawah pengaruh kekuatan kapitalis Amerika Serikat dan Inggris, dan oleh karena itu tidaklah bijaksana bagi negara muda yang masih sangat rapuh ini untuk memusuhi mereka. Sjahrir bahkan melihat bahwa nasib Indonesia amat tergantung pada kebijaksanaan politik yang akan diambil oleh kekuatan-kekuatan imperialis itu. Dari situ dia mengambil kesimpulan bahwa satu-satunya jalan untuk menjamin kemerdekaan Indonesia ialah melalui “diplomasi yang lihai dan fleksibel, agar Amerika dan Inggris tidak terundang untuk mendukung Belanda secara penuh”.
Review Buku Denyut Nadi Revolusi Indonesia


A. Melihat kembali Buku Denyut Nadi Revolusi Indonesia

Buku yang berjudul ”Denyut Nadi Revolusi Indonesia” ini merupakan kumpulan artikel dari beberapa orang yang menulis seputar Revolusi Indonesia. Secara garis besar buku Denyut Nadi Revolusi Indonesia terbagi atas empat bagian. Bagian pertama berisi tentang masa revolusi dalam konteks sejarah pembentukan bangsa dan negara Indonesia, makna dari pengalaman revolusi serta perdebatan antara “pendiri bangsa” tentang sifat revolusi. Revolusi merupakan proses perubahan cepat yang mencakup bidang yang luas dan dalam waktu yang relatif pendek. Sebagai proses perubahan, revolusi yang terjadi pada kurun waktu 1945-1949 telah melepaskan demikian banyak energi rakyat Indonesia yang terpendam demikian lama akibat represi kolonial. Indonesia pasca revolusi tidak pernah lagi akan serupa Indonesia pra revolusi.