History

History
"History Make Me Happy"
Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Friday, 30 September 2016

TEORI RUDOLF HERBELE TENTANG GERAKAN SOSIAL
*Muh. Mujibur Rohman

Rudolf Herbele mendefinisikan gerakan sosial sebagai usaha-usaha kolektif untuk mencapai perubahan dengan tujuan-tujuan tertentu dan cara-cara tertentu. Contohnya antara lain kekerasan, demonstrasi, revolusi dan dengan gerakan menuju masyarakat yang diangankan (utopia). Rudolf Herbele juga membagi karakteristik gerakan sosial ke dalam tiga bagian. Bagian pertama mengenai bentuk organisasi suatu gerakan sosial. Bagian kedua mengenai tahap-tahap gerakan sosial. Sedangkan bagian ketiga mengenai dasar terbentuknya suatu gerakan sosial.
TEORI DUALISME EKONOMI DAN DINAMIKA SEJARAH EKONOMI INDONESIA 
*Muh. Mujibur Rohman

Sejarah ekonomi Indonesia abad ke-19 dan 20, pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari kebijakan-kebijakan baru di bidang ekonomi yang dilaksanakan pemerintah kolonial untuk meningkatkan eksploitasi di tanah jajahan. Campur tangan pemerintah terhadap ekonomi kolonial terpusat di Jawa secara ekstrem di abad ke-19 dan tetap cenderung ke Jawa selama paruh pertama abad ke-20. Hal ini disebabkan Jawa merupakan pusat adminstrasi dan politik dari koloni yang menampung penduduk Eropa terbesar di kepulauan nusantara. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan pemerintah kolonial adalah sistem tanam paksa. Pelaksanaan sistem tanam paksa di daerah-daerah memperlihatkan hasil dan dampak yang berbeda-beda. Sistem tanam paksa di Sumatera Barat telah melahirkan stagnasi ekonomi dalam masyarakat Minangkabau dan kemacetan politik pada dasawarsa terakhir abad ke-19. Di pulau Jawa, pelaksanaan sistem ini telah mendorong suatu pertumbuhan yang mantap di bidang ekspor. Jawa makin terlibat dalam hubungan internasional.

Thursday, 15 September 2016

PERJANJIAN RENVILLE
(Latar belakang, Kronologi, dan Dampaknya bagi perjuangan bangsa Indonesia)
Bag.3
*Muh. Mujibur Rohman

  • Dampak Perjanjian Renville


Perjanjian Renville membawa dampak di dalam tubuh Republik, antara lain di bidang politik, militer dan sosial. Penandatanganan perjanjian Renville menimbulkan suatu krisis kabinet. Dari adanya Agresi Militer I dengan hasil diadakannya Perjanjian Renville menyebabkan jatuhnya pemerintahan Amir Sjarifuddin. Seluruh anggota yang tergabung dalam kabinetnya yang terdiri dari anggota PNI dan Masyumi meletakkan jabatan ketika Perjanjian Renville ditandatangani, disusul kemudian Amir sendiri meletakkan jabatannya sebagai Perdana Menteri pada tanggal 23 Januari 1948 dan sesudah itu mendirikan Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang menjadi oposisi dari pemerintahan Hatta. Dengan pengunduran dirinya ini dia mungkin mengharapkan akan tampilnya kabinet baru yang beraliran komunis untuk menggantikan posisinya. Harapan itu menjadi buyar ketika Soekarno berpaling ke arah lain dengan menunjuk Hatta untuk memimpin suatu “kabinet presidentil” darurat (1948-1949), dimana seluruh pertanggungjawabannya dilaporkan kepada Soekarno sebagai Presiden.
PERJANJIAN RENVILLE
(Latar belakang, Kronologi, dan Dampaknya bagi Perjuangan Bangsa Indonesia)
Bag.2
*Muh. Mujibur Rohman

  • Kronologi Perjanjian Renville

Perundingan Renville adalah perjanjian antara Indonesia dan Belanda yang ditandatangani pada tanggal 17 Februari 1947 di atas geladak kapal perang Amerika Serikat sebagai tempat netral, USS Renville, yang berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Amir Sjarifuddin Harahap, yang anggotanya antara lain Agus Salim dan Achmad Soebardjo. Delegasi Kerajaan Belanda dipimpin oleh Kolonel KNIL R. Abdul Kadir Widjojoatmodjo. Perundingan dimulai pada tanggal 8 Desember 1947 dan ditengahi oleh Komisi Tiga Negara (KTN), Committee of Good Offices for Indonesia, yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia, dan Belgia.
PERJANJIAN RENVILLE
(Latar belakang, Kronologi, dan Dampaknya bagi Perjuangan Bangsa Indonesia)
Bag.1
*Muh. Mujibur Rohman
  • Situasi dan Latar Belakang Perjanjian Renville
Munculnya perjanjian Renville didahului peristiwa pengingkaran Perundingan Linggarjati oleh pihak Belanda yang dilanjutkan oleh agresi militer pertama tanggal 21 Juli 1947. Sekitar bulan Mei 1947, pihak Belanda sudah memutuskan bahwa mereka harus menyerang Republik secara langsung. Kalangan militer Belanda merasa yakin bahwa kota-kota yang dikuasai pihak Republik dapat ditaklukkan dalam waktu dua minggu dan seluruh wilayah Republik dalam waktu enam bulan (Ricklefs, 2005).
Sebelum agresi dilakukan, pada tanggal 27 Mei 1947, Belanda mengirimkan Nota Ultimatum, yang harus dijawab dalam 14 hari, yang berisi:
1. Membentuk pemerintahan ad interim bersama;
2. Mengeluarkan uang bersama dan mendirikan lembaga devisa bersama;
3. Republik Indonesia harus mengirimkan beras untuk rakyat di daerah-daerah yang diduduki Belanda;
4. Menyelenggarakan keamanan dan ketertiban bersama, termasuk daerah daerah   republik yang memerlukan bantuan Belanda (gendarmerie bersama); dan
5. Menyelenggarakan penilikan bersama atas impor dan ekspor
IDENTITAS DAN INTEGRASI NASIONAL DALAM PUSARAN SEJARAH
Oleh M. Mujibur Rohman

Nasionalisme dan integrasi nasional memiliki interelasi dan interdepedensi yang saling mempengaruhi satu sama lain. Indonesia sebagai sebuah negara bangsa, eksistensinya secara historis tidak bisa dilepaskan dari perbincangan tentang nasionalisme. Sebagai sebuah identitas yang sebagian dari sejarahnya melekat pada dialektika yang dibentuk oleh kehadiran kolonialisme barat, nasionalisme mnenjadi nilai pokok yang menghiasi sejarah Indonesia. Menurut Eric Hobsbwam dalam Brotherhood of Young Europe disebutkan bahwa “rasa kebangsaan itu bersifat sakral, yang merupakan bagian dari misi khusus setiap umat manusia yang terkait erat dengan upaya setiap orang untuk mengisi misi umum kemanusiaannya”.

Friday, 26 August 2016

SHIPPING IN THE ARCHIPELAGO AT 15th-17th CENTURY
In the 15th century in Indonesia began to appear towns or port-emporiums. Port cities it developed in synergy with the development of Islam. This can be seen in the fact that the development of Islam in Indonesia is through the areas or the port cities such as Samudra Pasai, Aceh, Malacca, Demak, Gresik, Tuban, Cirebon, Banten, Ternate, and others. Between the port city with one another to hold mutual trade interactions. Of course, this activity using cruise lines as ingredients.
     With regard to shipping activities in the period of 15-17 century, it can not be separated from what is termed a shipbuilding technology. At that time there were already shipbuilding tradition that used to sail across the islands of the archipelago and to transport the goods of the trade. Shipbuilding tradition indigenous undergone significant changes since the arrival of Portuguese ships in the waters of the archipelago. This happens because a lot of the Portuguese working as an advisor and architect of the ship as was done by Van Linschotten in the late 16th century.

Friday, 19 August 2016

SEJARAH WAYANG WONG NGESTI PANDAWA SEMARANG

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman budaya dan kesenian rakyat. Tiap-tiap pulau di Indonesia mempunyai budaya dan kesenian rakyat atau kesenian tradisional  yang berbeda-beda. Kesenian tradisional, menurut A. Kasim Ahmad dalam majalah Analisis kebudayaan adalah suatu bentuk seni yang bersumber dari gerakan serta dirasakan sebagai hak milik sendiri oleh masyarakat lingkungannya. Salah satunya di Pulau Jawa, dimana terdapat kesenian Wayang yang merupakan salah satu kebudayaan asli Indonesia. Brandes berpendapat bahwa wayang erat sekali hubungannya dengan kehidupan sosial, kultural, dan religius suku bangsa Jawa. Arti harfiah dari wayang adalah bayangan, tetapi dalam perjalanan waktu pengertian wayang berubah, dan dapat berarti pertunjukkan. Wayang sebagai seni teater berarti pertunjukkan panggung di mana sutradara ikut bermain. Adapun sutradara dalam pertunjukkan wayang dikenal sebagai Dalang.
DINAMIKA PERJUANGAN BERSENJATA DAN PERJUANGAN DIPLOMASI DALAM SEJARAH KONTEMPORER INDONESIA

Dalam sejarah kontemporer Indonesia, dikenal dua bentuk strategi perjuangan, yaitu diplomasi dan perjuangan bersenjata. Perjuangan diplomasi dapat berjalan searah dengan perjuangan bersenjata maupun dapat berjalan berlawanan. Hal ini dapat dilihat ketika masa setelah Indonesia merdeka atau masa revolusi dan perjuangan merebut Irian Barat. Strategi diplomasi dan perjuangan bersenjata ketika masa revolusi (perang kemerdekaan), keduanya sama-sama digunakan untuk mempertahankan kemerdekaan republik terhadap aksi polisionil Belanda.
     Dalam konteks perjuangan diplomasi dengan Belanda, ada dua kelompok yang memiliki pandangan berbeda tentang strategi perjuangan ini. Kelompok pertama diwakili oleh Sjahrir, yang ketika menjadi perdana menteri lebih menekankan dan mengutamakan diplomasi daripada gerakan bersenjata. Hal ini dilatarbelakangi pandangan Sjahrir tentang kedudukan Indonesia yang masih sangat lemah pada waktu itu yang menurutnya berada di bawah pengaruh kekuatan kapitalis Amerika Serikat dan Inggris, dan oleh karena itu tidaklah bijaksana bagi negara muda yang masih sangat rapuh ini untuk memusuhi mereka. Sjahrir bahkan melihat bahwa nasib Indonesia amat tergantung pada kebijaksanaan politik yang akan diambil oleh kekuatan-kekuatan imperialis itu. Dari situ dia mengambil kesimpulan bahwa satu-satunya jalan untuk menjamin kemerdekaan Indonesia ialah melalui “diplomasi yang lihai dan fleksibel, agar Amerika dan Inggris tidak terundang untuk mendukung Belanda secara penuh”.
Review Buku Denyut Nadi Revolusi Indonesia


A. Melihat kembali Buku Denyut Nadi Revolusi Indonesia

Buku yang berjudul ”Denyut Nadi Revolusi Indonesia” ini merupakan kumpulan artikel dari beberapa orang yang menulis seputar Revolusi Indonesia. Secara garis besar buku Denyut Nadi Revolusi Indonesia terbagi atas empat bagian. Bagian pertama berisi tentang masa revolusi dalam konteks sejarah pembentukan bangsa dan negara Indonesia, makna dari pengalaman revolusi serta perdebatan antara “pendiri bangsa” tentang sifat revolusi. Revolusi merupakan proses perubahan cepat yang mencakup bidang yang luas dan dalam waktu yang relatif pendek. Sebagai proses perubahan, revolusi yang terjadi pada kurun waktu 1945-1949 telah melepaskan demikian banyak energi rakyat Indonesia yang terpendam demikian lama akibat represi kolonial. Indonesia pasca revolusi tidak pernah lagi akan serupa Indonesia pra revolusi.
JAWA, KEJAWEN, dan ALIRAN KEBATINAN
(bag.2)

B.     Jawa dan Kebatinan
    Kebatinan (dari batin: tersembunyi, rahasia ) berarti memelihara dan mengembangkan manusia-dalam dan secara umum menunjukkan mistik yang magis atau religius. Manusia-dalam dipandang sebagai semacam mikrokosmos (jagat cilik) terhadap makrokosmos (jagat gedhe) atau hidup.  Orang yang melakukan kebatinan berusaha untuk menyelaraskan diri dan akhirnya mempersatukan diri dengan prinsip itu yang meliputi segala-galanya (manunggaling kawula-Gusti) dan yang merupakan awal-mula serta tujuan segala-galanya (Sangkan-paran).
JAWA, KEJAWEN, dan ALIRAN KEBATINAN
(bag.1)

A.      Manusia Jawa dan Kejawen
Kejawen (bahasa Jawa Kejawèn) adalah sebuah kepercayaan atau mungkin boleh dikatakan agama yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa. Arti umum menurut kamus bagi istilah Kejawen atau kejawaan dalam bahasa Inggris adalah Javaneseness, Javanism, yang merupakan suatu cap deskriptif bagi unsur-unsur kebudayaan Jawa yang dianggap sebagai pada hakikatnya Jawa dan yang mendefinisikannya sebagai suatu kategori khas. Unsur-unsur ini biasanya diperkirakan sebagai berasal dari masa Hindu Budha dalam sejarah Jawa dan bergabung dalam suatu filsafat, yaitu suatu sistem khusus dari dasar-dasar perilaku kehidupan.
     Sebagai suatu sistem pemikiran Javanisme adalah lengkap pada dirinya, yang berisikan kosmologi, mitologi, seperangkat konsepsi yang pada hakikatnya bersifat mistik, dan sebagainya yang menimbulkan antropologi Jawa tersendiri, yaitu suatu sistem gagasan mengenai sifat dasar manusia dan masyarakat, yang pada gilirannya menerangkan etika, tradisi dan gaya Jawa (Mulder, 1985). Singkatnya, Javanisme memberikan suatu alam pemikiran secara umum sebagai suatu badan pengetahuan yang  menyeluruh, yang dipergunakan untuk menafsirkan kehidupan sebagaimana adanya dan sebagaimana rupanya.
DINAMIKA PELAYARAN DI NUSANTARA ABAD KE 15 – 17 M
Pada abad ke 15 di Indonesia mulai bermunculan kota-kota pelabuhan atau emporium-emporium. Kota-kota pelabuhan itu berkembang secara sinergi dengan perkembangan agama Islam. Hal ini dapat dilihat pada fakta bahwa berkembangnya agama Islam di Indonesia adalah melalui daerah-daerah atau kota-kota pelabuhan seperti Samudera Pasai, Aceh, Malaka, Demak, Gresik, Tuban, Cirebon, Banten, Ternate, dan lain-lain. Antara kota pelabuhan yang satu dengan yang lain saling mengadakan interaksi perdagangan. Sudah barang tentu aktivitas ini menggunakan jalur pelayaran sebagai sarananya.
     Berkenaan dengan aktivitas pelayaran dalam kurun waktu abad 15-17, maka tidak terlepas dari apa yang disebut sebagi teknologi perkapalan. Pada masa itu sudah terdapat tradisi pembuatan kapal yang digunakan untuk berlayar mengarungi pulau-pulau di nusantara serta untuk mengangkut barang-barang hasil perdagangan. Tradisi pembuatan kapal pribumi mengalami perubahan signifikan sejak kedatangan kapal-kapal Portugis di perairan nusantara. Hal ini terjadi karena banyak orang Portugis bekerja sebagai penasehat dan arsitek kapal seperti yang dilakukan oleh Van Linschotten pada akhir abad ke-16.
SEJARAH SEMARANG SEBAGAI KOTA PELABUHAN
Salah satu kota pelabuhan yang cukup terkenal adalah Semarang. Ditinjau dari sudut morfologinya, letak geografis kota Semarang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu kota atas atau daerah Bukit Candi yang biasa disebut dengan istilah kota atas (bovenstad) dan daerah rendah atau daerah alluvial disebut kota bawah (benedenstad). Diperkirakan daratan alluvial itu secara alami selalu makin bertambah antara 8-12 M pada setiap tahunnya. Pertambahan itu terutama sebagai pengendapan lumpur yang dibawa oleh Sungai Kaligarang atau Sungai Semarang yang pada jaman kolonial Belanda tampak melewati dan membelah kota Semarang.
NAHDLATUL ULAMA (NU): Sejarah, Perkembangan dan Peranannya dalam Pergerakan Nasional Indonesia
 (Bag.3)

C. Peranan Nahdlatul Ulama dalam Pergerakan Nasional Indonesia
Di luar upaya-upaya transformasi sosial dalam berbagai bidang yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, NU juga berperan penting dalam pembentukan sikap nasionalisme bangsa Indonesia. Dan hal itu sudah dilakukan sejal awal tahun 1930-an, ketika Indonesia masih di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Terkait dengan peran ini, salah satu sumbangan penting NU adalah keputusan Muktamar XI di Banjarmasin tahun 1936 yang menegaskan bahwa nama negara adalah “Indonesia”. Keputusan yang berawal dari satu materi yang dikaji dalam Bahtsul Masa’il ad-Diniyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan) dan dikaji dalam perspektif syariat Islam ini, mempunyai dampak yang luar biasa terhadap proses pembentukan nasionalisme bangsa Indonesia. Hal itu karena keputusan ini paralel dengan gerakan kaum nasionalis sekuler bangsa Indonesia pada saat itu, yang sedang sangat membutuhkan dukungan dengan legitimasi  kuat dari berbagai kalangan. Pengaruhnya jadi semakin signifikan karena keputusan muktamar NU ini dilakukan di satu wilayah yang jauh dari pusat gerakan nasionalisme bangsa Indonesia.
NAHDLATUL ULAMA (NU): Sejarah, Perkembangan dan Peranannya dalam Pergerakan Nasional Indonesia
 (Bag.2)

B. Perkembangan Nahdlatul Ulama
Organisasi Nahdlatul Ulama berkembang pesat selama lima belas tahun pertama setelah pembentukannya. Data statistik mengenai periode ini sangat langka, tetapi beberapa petunjuk mengenai pola pertumbuhannya terlihat jelas dari angka-angka berikut ini. Muktamar pertama NU pada tahun 1926 dihadiri 96 kiai. Muktamar kedua, setahun kemudian dihadiri 146 kiai dan 242 peserta biasa. Pada muktamar tahun 1928, sebanyak 280 kiai hadir dan 35 cabang telah terbentuk. Pada tahun 1933 anggotanya diperkirakan telah mencapai 40.000 dan setahun kemudian sumber dari pemerintah Belanda menyatakan bahwa 400 kiai sudah menjadi anggota NU. Pada tahun 1935 jumlah anggotanya melonjak, mencapai 67.000 orang, yang tersebar di 76 cabang (Fealy, 1994).
NAHDLATUL ULAMA (NU): Sejarah, Perkembangan dan Peranannya dalam Pergerakan Nasional Indonesia
 (Bag.1)

A. Latar Belakang Terbentuknya Nahdlatul Ulama (NU)
Secara historis, kelahiran Nahdlatul Ulama (NU) tidak terlepas dari keadaan dunia Islam internasional, terutama di wilayah Timur Tengah. Dalam dunia Islam saat itu sedang muncul gerakan pembaharuan yang dibawa Muhammad Abduh, yang terpengaruh oleh Ibnu Taimiyah yang begitu berpihak pada ahli hadis. Gerakan ini kemudian mengembangkan dan menyebarkan paham, yang sejauh ini dikembangkan oleh Wahabi. Gerakan Wahabi secara tegas kurang begitu mengakui keberadaan Imam Mazhab, bahkan menganjurkan umat Islam agar melepaskan diri dari keterikatan pada mazhab. Isu dominan yang diintrodusir oleh mereka adalah anjuran agar umat Islam melakukan pembaharuan pendidikan dan melepaskan keterikatan dengan ulama mazhab, termasuk juga penolakan terhadap tarekat (PP Ma’arif NU, 2004).
CORAK PERGOLAKAN SOSIAL DALAM SEJARAH INDONESIA
Selama abad ke-19 dan awal abad ke-20 di Indonesia terus-menerus timbul pergolakan, kerusuhan, kegaduhan, aksi protes, dan sebagainya, yang semuanya itu cukup menggoncangkan masyarakat dan pemerintah pada waktu itu. Gerakan-gerakan rakyat itu pada umumnya dianggap sebagai gerakan yang bersifat arkais, baik dari segi organisasinya, programnya, strategi dan taktiknya, sehingga pemberontakan-pemberontakan yang dilancarkan mereka mudah sekali ditindas oleh kekuatan militer kolonial.
    Pada umumnya gerakan-gerakan semacam itu umurnya sangat pendek dan merupakan pergolakan lokal atau regional yang tidak ada koordinasi satu sama lain. Selain sifatnya yang tradisional arkais, gerakan sosial juga memiliki orientasi tujuan yang masih kabur serta pengikut atau pelaku-pelakunya tidak mempunyai gambaran yang jelas tentang bagaimana tata masyarakat dan tata pemerintahan yang akan direalisasikan andaikata perjuangan itu dapat mencapai kemenangan.
FOLKLOR INDONESIA DAN JEPANG: SEBUAH PERBANDINGAN
(Bag.4)

D. Perbandingan dari Folklor Jepang dan Indonesia
     Dengan mempelajari folklor kedua negara ini, maka akan menemukan banyak persamaan disamping perbedaan. Misalnya mengenai keyakinan rakyat (folk beliefs), secara mendasar ada persamaan di antara keyakinan rakyat Jepang dengan keyakinan orang Jawa di kalangan Abangan dan orang Bali, terutama pada kepercayaan mengenai alam gaib dan konsep rakyat jelata mengenai keadaan “tercemar” (polluted state) dari kaum wanita selama menstruasi serta pada waktu melahirkan anak, karena mengeluarkan darah, yang di pulau Bali disebut keadaan sebel.
FOLKLOR INDONESIA DAN JEPANG: SEBUAH PERBANDINGAN
(Bag.3)

C. Motivasi Penelitian Folklor di Indonesia dan Jepang
Motivasi penelitian folklor di kedua negara (Indonesia dan Jepang) pada dasarnya sama, yakni untuk mencari identitas bangsanya masing-masing. Yang membedakan hanya penyebab timbulnya motivasi untuk meneliti folklor di kedua negara tersebut.
     Kebudayaan di Indonesia dapat digolongkan menjadi dua macam : kebudayaan nasional dan kebudayaan nusantara. Kebudayaan nasional yaitu kebudayaan yang berlaku bagi semua bangsa Indonesia, baik yang pribumi maupun bukan yang pribumi, sedangkan kebudayaan nusantara yaitu kebudayaan yang sudah ada sebelum terbentuknya negara Republik Indonesia. Kebudayaan tersebut antara lain kebudayaan Batak, Jawa, Sunda, Minangkabau, Bugis, Asmat dan lain-lain. Jika kebudayaan-kebudayaan nusantara sudah mantap, maka kebudayaan nasional Indonesia belum.